Apa Itu Bank Syariah

Istilah Bank Syariah tentunya sudah tidak asing bagi kita. Bahkan mungkin sebagian dari kita adalah salah satu nasabah dari bank syariah yang ada dan beroperasi di Indonesia.

Pada dasarnya bank syariah adalah lembaga yang melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dengan menggunakan prinsip syariah yang sudah diatur dalam fatwa dari Majelis Ulama Indonesia atau MUI, diantaranya prinsip Adl Wa Tawazun (Keadilan dan keseimbangan), prinsip Maslahah (Kemaslahatan), Prinsip Alamiyah (Universalisme), dan tentunya pada bank syariah tidak boleh mengandung unsur haram seperti gharar, riba, zalim, maysir dan mengandung unsur objek haram lainya.

Kegiatan operasional bank syariah ini diatur dan diawasi oleh OJK  sebagaimana pada kegiatan operasional bank konvensional. Selain diawasi oleh OJK, produk dan kegiatan bank syariah ini juga di awasi oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI yang memiliki fungsi khusus untuk menerbitkan fatwa kesesuaian syariah atas sebuah produk bank.

Jika sebuah produk bank syariah sudah mendapatkan fatwa dari DSN-MUI dan memperoleh izin dari OJK baru boleh mulai ditawarkan kepada masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menjamin terpenuhinya semua prinsip kegiatan ekonomi sesuai dengan prinsip syariah. Lalu apa perbedaan bank syariah dengan bank konvensional ?

Kita mungkin akan fasih menjawab bahwa perbedaan diantara bank syariah dan bank konvensional terletak pada bunga atau riba. Dimana bank syariah tidak mengenal adanya sistem bunga. Namun, lebih jauh lagi secara garis besar perbedaan diantara keduanya dapat kita lihat dalam tabel dibawah ini.

No.Bank KonvensionalBank Syariah
1.Sistem bungaBerdasarkan prinsip bagi hasil, margin keuntungan dan fee
2.Bebas nilaiBersandar pada usaha yang bersifat halal
3.Besaran bunga tetapBesaran bagi hasil bergantung pada kinerja usaha
4.Berorientasi pada labaBerorientasi pada laba dan falah
5.Hubungan debitur-krediturPola Hubungan kemitraan, penjual-pembeli, sewa menyewa, debitur-kreditur
6.Diawasi oleh OJKDiawasi oleh OJK dan DPS

Lalu kenapa harus membentuk bank syariah, kan sudah ada bank konvensional? Pembentukan bank syariah ini didasarkan pada adanya larangan dalam agama Islam untuk mengenakan bunga pinjaman, serta adanya larangan untuk berinvestasi pada usaha yang tidak halal. Ketidakmampuan bank konvensional dalam menjamin terlaksananya kepatuhan akan larangan tersebut melahirkan gagasan akan perlunya sistem perbankan yang sesuai dengan syariah islam.

Sejarah Bank Syariah

Konsep perbankan syariah secara sederhana sebenarnya sudah dilaksanakan sejak zaman Rasullulah SAW. Kala itu terdapat sebuah lembaga yang secara khusus menerima simpanan uang, meminjamkan uang dan memberikan jasa pengiriman uang.

Sejarah bank syariah dunia berawal dari sebuah gagasan untuk membawa prinsip dan nilai islam dalam kehidupan perekonomian masyarat modern sehari-hari. Gagasan ini terus dikembangkan hingga kemudian menjadi isu dalam konferensi Negara-Negara Islam sedunia yang dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada bulan April 1969.

Lebih lanjut lagi, gagasan ini diwujudkan dengan berdirinya Islamic Development Bank (IDB) atas prakarsa sidang menteri Luar Negeri Negara OKI ( Organisasi Konferesi Islam) pada tiga rangkaian sidang yang diadakan tahun 1970 di  Pakistan, sidang tahun 1973 di Libiya dan sidang pada 1975 yang diadakan di Jeddah.

Negara Islam lainnya juga mendirikan Lembaga keuangan syariah yang terinspirasi dari pendirian IDB. Pendirian IDB ini juga menginspirasi pendirian Philipe Amanah Bank pada tahun 1973 dan pendirian Islamic Development Bank setahun setelahnya.

Ada satu fakta menarik nih, dalam sejarah perkembangan bank syariah Pakistan tercatat sebagai Negara yang mempelopori sitem perbankan secara nasional. Pakistan mengkonversikan seluruh system perbankan di negaranya menjadi perbankan syariah di tahun 1985.

Jenis Bank Syariah

Secara umum, bank syariah terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu Bank Umum Syariah (BUS), Unit Usaha Syariah (UUS), serta Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Apa perbedaan diantara ketiganya ?

Bank Umum Syariah (BUS) merupakan bank syariah yang menawarkan jasa lalu lintas pembayaran. Anggota dari jenis Bank Umum Syariah ini diantaranya ada Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah, Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri.

Selanjutnya ada Jenis Unit Usaha Syariah (UUS) yang merupakan unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang memiliki fungsi untuk kantor induk dan unit kantor cabang untuk melakukan berbagai aktivitas usaha menurut prinsip syariah, contohnya Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Danamon Indonesia dan Bank CIMB Niaga

Yang terakhir ada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, berbeda dengan dua bank sebelumnya, pada BPRS tidak dapat menghimpun dana masyarakat dalam bentuk giro. Sehingga BPRS tidak dapat menerbitkan cek dan bilyet giro. BPRS Amanah Rabbaniah dan BPRS Buana Mitra Perwira adalah contoh dari BPRS yang ada di Indonesia.

Produk Bank Syariah

Ada tiga produk utama yang ditawarkan oleh bank syariah, yaitu penyaluran dana, penghimpun dana dan jasa lain yang diberikan kepada nasabah.  Produk penghimpun dana yang ada pada bank syariah tidak jauh berbeda dengan produk penghimpun dana dari bank konvensional. Dimana bank syariah menghimpun dana dari masyrakat dalam bentuk simpanan baik berupa giro, tabungan ataupun deposito.

Produk penyaluran dana dari bank syariah ini dikenal dengan istilah pembiayaan. Bank syariah memiliki produk pembiayaan yang terbagi berdasarkan akad. Yaitu, pembiayaan berdasarkan akad jual beli, pembiayaan berdasarkan akad sewa-menyewa, pembiayaan berdasarkan akad bagi hasil dan pembiayaan berdasarkan akad pinjam meminjal yang berlandaskan sifat sosial.

Beberapa istilah pembiayaan seperti mudharabah, murabahah, istishna juga ijarah mungkin pernah kita dengar. Istilah itu merupakan jenis akad yang terdapat dalam pembiayaan bank syariah.

Adapun produk jasa perbankan lain yang ditawarkan oleh bank syariah adalah pengiriman uang baik itu sesama bank syariah atau pengiriman uang ke rekening bank konvensional, kliring, inkaso, safe desposit bo, kartu kredit, Bank notes, bank garansi, bank draft hingga Letter of Credit atau L/C.

Bank Syariah di Indonesia

Melansir dari situs OJK, gagasan pendirian bank syariah di Indonesia dimulai melalui forum diskusi mengenai bank Islam sebagai pilar ekonomi pada tahun 1980. Gagasan ini kemudian diwujudkan dalam sebuah uji coba pada Bait At-Tamwil Salman ITB dan Koperai Ridho Gusti Jakarta.

Selanjutnya muncul gagasan untuk menerapkan “Sistem bagi hasil” yang kemudian di sambut dengan Paket Kebijakan Deregulasi Perbankan 1988 (Pakto 88). Paket kebijakan ini melahirkan banyak usaha perbankan yang mengusung prinsip syariah.

Melihat geliat perbankan syariah yang terus berkembang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk kelompok kerja untuk mendirikan Bank Islam pada tahun 1990. Kelompok kerja yang kemudian terkenal dengan Tim Perbankan MUI ini bertugas melakukan pendekatan dan konsultasi.  Lalu berdirilah Bank Mualamat Indonesia satu tahun setelahnya, tepatnya pada 1 November 1991  dan resmi beroperasi pada 1 Mei 1992.

Munculnya Bank Muamalat Indonesia ini memicu berbagai gerakan akomodasi terkait dengan landasan hukum dan operasional bank syariah di Indonesia. Setelah berbagai landasan hukum dibuat  dan disahkan, semakin banyak bermunculan bank syariah lain seperti Bank Syariah Mandiri, Bank Niaga, dan Bank BRI Syariah.

Hingga saat ini, perkembangan bank syariah di Indonesia kian lama kian bertambah pesat baik itu dari segi kelembagaan dan segi infrastuktur penunjang, perangkat regulasi serta pengawasan juga meningkatnya kebutuhan masyarakat akan adanya layanan jasa keuangan berbasis syariah. Apalagi dengan lahirnya bank syariah Indonesia sebagai bank syariah raksasa hasil merger 3 bank milik pemerintah yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah dan Bank BNI Syariah.

Bila anda ingin menabung sesuai dengan syariah islam, bank syariah adalah pilihan yang paling tepat. Tidak perlu khawatir karena semua sudah diawasi secara ketat oleh MUI dan juga OJK.

Must Read

Related Articles

%d blogger menyukai ini: