Inferiority Complex dari Sudut Lifestyle di IdeaFest 2019

Ngagaya.ID, Jakarta,– Diskusi Inferiority Complex dari Sudut Lifestyle di IdeaFest 2019. Setiap orang tentu memiliki rasa minder, baik itu dalam hal kemampuan atau bahkan penampilan. Memang perasaan tersebut cukup manusiawi. Namun jika berkelanjutan akan menyebabkan sindrom inferiority complex.

Inferiority complex sendiri yaitu kondisi psikologis, yang membuat seseorang merasa rendah diri serta bersikap pesimistis. Alhasil, timbul konflik dalam diri yang terjadi antara keinginan untuk diperhatikan serta rasa takut untuk dipermalukan.

Sehingga setiap kegiatan yang ingin dilakukan selalu dibatasi kedua hal itu. Menurut Amelia Ayu Kinanti, Editor in Chief Fimela, Inferiority complex yaitu seseorang yang memiliki standar tertentu yang dibuat sendiri.

“Secara psikologis seseorang ini merasa rendah diri yang berlebihan, hingga akhirnya membuat standar sendiri. Padahal apakah benar standar itu untuk digunakan,” ungkap Amelia Ayu Kinanti, dalam acara Ideafest 2019, di Jakarata (05/10/19).

Inferiority Complex dari Sudut Lifestyle, Fashion Dan Beauty

Jika dilihat dari kacamata gaya hidup, tentu bukan suatu rahasia lagi jika go internasional menjadi standar kesuksesan semua bidang. Termasuk fashion serta beauty. Atau membandingkan brand lokal dengan brand luar.

Ayu, sapaan Amelia mengungkapkan jika dilihat kepada kasus terlebih dahulu seorang desainer Indonesia mampu menembus New York Fashion Week.

Namun tidak lama kemudian, desainer tersebut menjadi tersangka dana Umroh. “Padahal jika memiliki modal siapa saja bisa membeli slot di New York Fashion Week, melihat kasus itu berarti go internasional belum tentu membuat brand atau seseorang sudah sukses,” tambahnya.

Standar go internasional itu, lanjut Ayu akan menghambat perkembangan diri karena hanya ada keinginan untuk diperhatikan.

Kabar baiknya, Ayu mengungkapan kini brand lokal berkembang karena tidak terbebani oleh go internasional. Masyarakat pun lebih nyaman menggunakan brand lokal karena pengerjaanya yang rapi.

“Masyarakat kita saat membeli pakaian karena kualitasnnya. Tidak memilih berdasarkan apakah brand ini sudah tembus pasar internasional,” ujarnya.

Ayu lebih lanjut menegaskan, jika menjual produk di negeri sendiri merupakan keberhasilan. Sebab, pasar Indonesia cukup besar.***

Loading...

Tinggalkan Balasan